Pages

Rabu, 02 Januari 2013

Ilmu Pendidikan


BAB 1
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Ilmu pendidikan adalah ilmu yang sangat berpengaruh dalam suatu kehidupan. Di Indonesia umumnya dan di dunia khususnya. Jika pendidikan rendah, maka negaranya pun akan rendah dalam hal kualitas dan mutunya. Oleh karena itu apabila dalam suatu negara menginginkan negaranya maju, maka yang pertama dirombak kebijakannya adalah pendidikan.
Kualitas pendidikan di
Indonesia sangat disayangkan, sebab meskipun di Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat banyak  namun dalam hal pendidikannya masih rendah. Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia. Oleh sebab itu pendidikan juga bersifat humanis.
Di dalam makalah ini kami akan mendiskripsikan pendidikan sebagai ilmu dan sebagai system. Kami mengambil judul ini karena pendidikan sebagai ilmu yang menelaah fenomena-fenomena pendidikan dalam persfektif yang luas dan integrative pendidikan sebagai sistem yaitu suatu kesatuan yang kompleks yang dibentuk dari berbagai bagian yang tunduk pada rencana umum. Untuk lebih jelasnya kami akan mendeskripsikan di dalam pembahasan.    
B.Tujuan Penulisan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
1. Untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Ilmu Pendidikan             mengenai Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sebagai Sistem.
2. Untuk membantu rekan-rekan mahasiswa dalam memahami materi tentang Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sebagai Sistem.
3. Untuk memberi penjelasan yang lebih mendalam tentang Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sebagai Sistem.
C.Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Pendidikan Sebagai Ilmu
2. Pendidikan Sebagai Sistem


BAB 2
PEMBAHASAN

A.Pendidikan Sebagai Ilmu
(Dwi Siswoyo,2008:28-42)Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam kehidupan manusia. Kita dapat mengatakan, bahwa di mana ada kehidupan manusia, bagaimanapun juga di situ pasti ada pendidikan (Driyakara, 1980:32). Pendidikan gejala yang universal, merupakan suatu keharusan bagi manusia, karena disamping pendidikan sebagai gejala sekaligus juga sebagai upaya memanusiakan manusia itu sendiri. Dengan perkembangan kebudayaan manusia, timbulah tuntutan adanya pendidikan yang lebih baik, lebih teratur dan didasarkan adanya pemikiran yang matang.
Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia. Pandangan bahwa pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya untuk melahirkan teori-teori pendidikan. Sedangkan ilmu pendidikan adalah imu yang menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integrative. Fenomena pendidikan ini bukan hanya merupakan gejala yang melekat pada manusia (gejala yang universal), dalam persfektif yang luas, melainkan juga sekaligus merupakan upaya untuk memanusiakan manusia agar menjadi sebenar-benarnya manusia (insan), yang hal ini secara integrative diperlukan menggunakan berbagai kajian tentang pendidikan (kajian historis, filosofis. Psikologis, dan sosiologis). Upaya pendidikan mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan (mendidik dan didikan) dan pemikiran yang sistematik tentang pendidikan.
1.      Persyaratan Pendidikan Sebagai Ilmu

Ilmu adalah suatu pengetahuan yang di susun secara kritis, metodis dan sisitem yang berasal dan observasi, studi dan eksperimen untuk menentukan hakekat dan prinsip-prinsip apa yang dipelajari.

Sesuatu kawasan studi dapat tampil atau menampilkan diri sebagai suatu disiplin ilmu, bila dipenuhi setidak-tidaknya tiga syarat, yaitu:
a.       Memiliki obyek studi (obyek material dan obyek formal)
Yang menjadi obyek material ilmu pendidikan adalah perilaku  yamanusia.Perilaku manusia sebagai mahluk yang hidup di dalam masyarakat  maka perilakunya dapat dilihat dari segi ilmu pendidikan,psikologis,sosiologis,antropologis.Psikologis adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kelompok. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai mahluk biososial, yaitu mahluk yang berbudaya. Tentu saja masih banyak aspek lain yang berhubungan dengan kehidupan manusia sebagai insan politik, insan ekonomi,hokum dan sejarah. Jadi yang membedakan satu ilmu dan ilmu lain ialah objeknya. Apabila kebetulan objek materialnya sama, maka yang membedakan satu ilmu dan ilmu lainnya adalah objek formalnya. Objek formal adalah objek material yang disoroti oleh suatu ilmu, atau sudut pandang tertentu yang menentukan macam ilmu. Objek formal ilmu pendidikan adalah menelaah fenomena pendidikan dalam persfektif yang luas dan integrative.
b.      Memiliki sistematika
Sistematika ilmu pendidikan dapat dibagi menjadi 3 segi tinjauan yaitu
1)      Melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi,
     Dapat dianalisis dan proses atau situasi pendidikan, yaitu adanya komponen-komponen pendidikan yang secara terpadu saling berinteraksi dalam suatu rangkai keseluruhan kebulatan kesatuan dalam mencapai tujuan. Komponen-komponen pendidikan itu adalah:
a.          Tujuan Pendidikan
b.         Peserta didik
c.          Pendidik
d.         Isi pendidikan
e.          Metode pendidikan
f.          Alat Pendidikan
g.         Lingkungan pendidikan

2)   Melihat pendidikan sebagai upaya sadar
Menurut Noeng Muhadjir (1987:19-37) bertolak dan fungsi pendidikan yaitu:
a.       Menumbuhkan kreatifitas peserta didik
b.      Menjaga lestarinya nialai-nilai insane dan nilai-nilai ilahi
c.       Menyiapkan tenaga kerja produtif
3)   Melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi, sekaligus upaya sadar dengan mengantisipasi perkembangan sosio budaya di masa depan. Menurut Mochtar Buchori (1994:81-86) ilmu pendidikan memiliki 3 dimensi yang dapat kita bedakan sebagai sistematika ilmu pendidikan, yaitu:
a)      Dimensi lingkungan pendidikan: lingkungan pendidikan keluarga, lingkungan pandidikan sekolah dan lingkungan pendidikan luar sekolah atau masyarakat
b)      Dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan: (a) persoalan-persoalan fondasional (persoalan-persoalan teoritis dalam pendidikan),(b) persoalan-persoalan struktural (masalah-masalah struktur lembaga pendidikan) dan (c) persoalan-persoalan operasiaonal (persoalan-persoalan praktis dalam pendidikan)
c)      Dimensi waktu dan ruang: kecermatan dalam memperkirakan  problematika masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan kita untuk memahami situasi dan masalah-masalah sekarang dan masa lampau secara mendalam dan esensial,baik dalam masyarakat kita maupun dalam masyarakat-masyarakat lain.
   Metode-metode yang dipakai untuk ilmu pendidikan sebagai berikut (Soedomo,1990:46-47;Mob,Said,1989):
a.       Metode normatif
Berkenaan dengan konsep manusia yang diidealkan yang ingin dicapai oleh pendidikan. Metode ini menjawab pertanyaan yang berkenaan dengan masalah nilai baik dan nilai buruk.
b.      Metode explanatori
Bersangkut paut dengan pertanyaan tentang kondisi dan kekuatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil. Suatu teori pendidikan yang sahih memberikan suatu explanasi yang memadai mengenai apa yang terjadi di alam, yang didasarkan pada dikte-dikte empiris.

c.       Metode teknologis
Mempunyai fungsi untuk mengungkapkan bagaimana melakukannya dalam rangka menuju keberhasilan pencapaiannya tujuan-tujuan yang diinginkan.
d.      Metode deskriptif-fenomenologis
Metode ini mencoba menguarikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan kemudian mengklasifikasikan sehingga ditemukan yang hakiki.
e.       Metode hemeneutis
Metode ini untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna dan struktur dan kegiatan pendidikan.
f.       Metode analisis kritis (Filosofis)
Metode ini menganalisi secara kritistentang istilah-istilah, pernyataan-pernyataan, konsep-konsep dan teori-teori yang ada atau digunakan dalam pendidikan.

2.      Sifat-sifat Ilmu Pendidikan
Ilmu pendidikan bersifat empiris, rokhaniah, normatif, historis, terotis, dan praktis (Soetjipto Wirowidjojo, 1986:8-9;30-31, Sutani Imam Barnadib, 1984:15-19).
Ilmu pendidikan bersifat empiris, karena obyeknya (fenomena atau situasi pendidikan) dijumpai dalam dunia pengalaman.
Ilmu pendidikan bersifat rokhaniah, karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia tidak membiarkan peserta didik kepada keadaan alamnya, melainkan memandang sebagai makhlik susila sebagai dan ingin membawanaya kearah manusia susila yang berbudaya.
Ilmu pendidikan bersifat normatife, karena berdasarkan atas pemilihan antara yang baik dan yang tidak baik untuk peserta didik pada khususnya dan manusia pada umumnya.
Ilmu pendidikan bersifat historis, karena memberikan uraian teoritis tentang sisitem-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman-jaman tertentu.
Ilmu pendidikan bersifat teoritis, karena memberikan pemikiran yang tersusun secara teratur  dan logis tentang masalah-maslah dan ketentuan-ketentuan pendidikan.
Ilmu pendidikan bersifat praktis, karena memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan-ketentuan pendidikan yang berlangsung ditujukan kepada perbuatan mendidik.

3.      Pengembangan Pendidikan
Ilmu pendidikan memiliki dasar yang sekaligus juga sebagai sumbernya, yaitu filsafat pendidikan. Selain itu, pendidikan juga menggunakan fondasi pendidikan untuk berpikir secara lebih jernih. Fondasi pendidikan sendiri adalah studi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip dasar yang melandasi pencarian kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan yang berharga dan efektif.
Fondasi pendidikan menurut Van Clave Morris (Dwi Siswoyo, 2008:38) dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Fondasi-fondasi historis dan filosofis tentang pendidikan.
b.      Fondasi-fondasi sosiologis dan psikologis tentang pendidikan.
Filsuf pendidikan ingin mengetahui bagaimana manusia memikirkan kehidupan secara keseluruhan, apakah kehidupan yang baik, dan bagaimana pendidikan dapat membantu mencapainya.
Seorang pendidik yang memahami tentang fondasi-fondasi pendidikan akan membantunya lebih perspektif dan berfikir lebih jernih. Oleh karena itu, bidang-bidang seperti philosophical, psychological, sociological, political, economical, dan lain-lain sangat berkaitan dengan ilmu pendidikan.  

B. Pendidikan Sebagai Sistem
1. Pengertian Sistem
        (Dwi Siswoyo, 2008:42-56)Sistem adalah suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dari komponen-komponen yang saling berinteraksi atau interdependensi dalam mencapai tujuan.
Oleh karena itu, suatu system di dalamnya mengandung hal-hal sebagai berikut:
a.       adanya satu kesatuan organis;
b.      adanya komponen-komponen yang membentuk kesatuan organis;
c.       adanya hubungan keterkaitan antara komponen satu dengan lain maupun antara komponen dengan keseluruhan;
d.      adanya gerak dan dinamika;
e.       adanya tujuan yang ingin dicapai.
Upaya pendidikan merupakan aktivitas yang kompleks, yang melibatkan sejumlah komponen pendidikan yang saling berinteraksi atau interdepensi satu sama lain. Apabila upaya pendidikan hendak dilaksanakan secara terencana dan teratur, maka berbagai komponen dan saling hubungannya perlu dikenali, dikaji dan dikembangkan sehingga mekanisme kerja komponen-komponen itu secara menyeluruh dan terpadu, akan dapat membuahkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, pengkajian tentang upaya pendidikan sebagai suatu sistem mempunyai arti yang penting
2. Komponen-Komponen Upaya Pendidikan
Tiga komponen sentral dalam upaya pendidikan adalah
a.       Peserta Didik
Komponennya meliputi jumlah peserta didik, tingkat perkembangannya, pembawaaannya, tingkat kesepiannya, minat-minatnya, motivasinyacita-citanya.
b.      Pendidik
Meliputi usia pendidikan, tingkat pendidikannya, kualitas pengalamannya, kehadirannya, kemampuannya, minat-minatnnya, wataknya, statussnya, wibawanya, dan komitmennya terhadap tugas dan kewajibannya.
c.       Tujuan Pendidikan
Meliputi tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam dan proses pendidikan dan tujuan yang sangat spesifik sampai tujuan yan bersifat umum yang ditetapkan dalam UU No. 20 Tahun 2003.
Tujuan umum menyiratkan hal-hal umum yang hendaknya dicapai, sedangkan tujuan khusus menyatakan kepada peserta didik: (1)penampilan apa yang diharapakan darinya, (2)sampai sejauh mana penampilan itu harus dikuasai sebagai penampilan yang  memenuhi syarat, (3)dalam kondisi yang bagaimana penampilan yang memenuhi syarat itu harus ditampilkan.

3. Saling Hubungan Antar Komponen
 Proses pendidikan terjadi apabila antar komponen pendidikan yang ada di dalam upaya pendidikan itu saling berhubungan secara fungsional dalam suatu kesatuan yang terpadu. Dalam proses pendidikan, seorang pendidik yang sudah siap melaksanakan upaya pendidikan terhadap seorang peserta didik, tetapi peserta didik itu tidak menyukai pendidiknya  sehingga bersikap acuh tak acuh, bahkan menolak untuk berinteraksi dengan pendidik, proses pendidik itu dapat dikatakan gagal. Komponen pendidikan pada hakekatnya terpusat interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam mencapai tujuan pendidikan.

4. Pencapaian Tujuan Yang Diinginkan
Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, perlu disusun dan difungsionalkan suatu system, penyelenggaraan pendidikan yang baik. Berbagai komponen dalam sisitem perlu dikenali, dipahami dan dikembangkan secara saksama, sehingga benar-benar dapat berfungsi dengan tepat dan penuh pula. Peninjauan berdasarkan pendekatan system terhadap upaya pendidikan, dapat menghasilkan kebijakan yang berupa pembaharuan sebagaian atau menyeluruh, bertahap atau sekaligus. Kebijakan atau keputusan ini dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan secara optimal.    
5. Sistem Pendidikan dalam Kerangka yang lebih Luas
6. Tantangan Sistem Pendidikan
Dalam decade akhir-akhir ini semakin terasa dan nampak perubahan-perubahan sosio budaya yang demikian cepat akibat perkembangan ilmu dan teknologi yang spektakuler. Sistem pendidikan kita dituntut untuk memiliki tiga kemampuan (Moechtar Buchori, 1994:44), yaitu:
a.       Kemampuan untuk mengetahui pola-pola perubahan dan kecenderungan yang sedang berjalan.
b.      Kemampuan untuk menyusun gambar tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang sedang berjalan tadi.
c.       Kemampuan untuk menyusun program-program penyesuaian diri yang akan ditempuhnya dalam jangka waktu tertentu, misalnya jangka waktu 5 tahun.
Untuk menunjang pencapaian kemampuan-kemampuan sistem pendidikan diatas, daerah cakupan penelitian pendidikan hendaknya diperluas tidak hanya menggarap masalah-masalah belajar mengajar (masalah-masalah didaktis) saja, melainkan juga membahas masalah-masalah pendidikan dalam kaitannya dengan perubahan-perubahan ekonomi, sosial, cultural, dan teknologi baik yang bersifat nasional, regional maupun global. Disamping itu penelitian pendidikan perlu diupayakan lebih terkoordinasi secara integratif dibawah payung-payung permasalahan yang bersifat hierarkhis dilihat dari luar maupun kedalam, sehingga akan lebih besar manfaatnya untuk pengambilan kebijakan-kebijakan pendidikan baik dalam lingkungan lembaga pendidikan yang bersangkutan maupun dalam lingkungan yang lebih luas.




BAB 3
PENUTUP

A.    Kesimpulan :
1.      Obyek material ilmu pendidikan adalah perilaku manusia.
2.      Ilmu pendidikan bersifat empiris, rohaniah, normative, historis, teoritis dan praktis.
3.      Tiga komponen sentral dalam upaya pndidikan adalah peserta didik, pendidik, dan tujuan pendidikan.
4.      Menurut Moechtar Buchori (Dwi Siswoyo,2008:54) Sistem pendidikan dutuntut untuk memiliki tiga kemampuan, yaitu :
a.          Kemampuan untuk mengetahui pola-pola perubahan dab kecnderungan yang sedang berjalan.
b.         Kemampuan untuk menyusun gambar tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang sedang berjalan tadi.
c.          Kemampuan untuk menyususn program-program penyesuaiaan diri yang akan ditempuhnya dalam jangka waktu tertentu.

B.   Saran
1.       Sebaiknya dalam pendidikan juga di imbuhi dengan teknologi pula agar lebih




DAFTAR PUSTAKA

Siswoyo,Dwi.2008.Ilmu Pendidikan,Yogyakarta:UNY Press.

0 komentar:

Posting Komentar